IT-teknologi untuk informasi-imajinasi-inspirasi by Lendy Widayana

23 Desember , 2006

[2006] Berharap pada teknologi generasi ketiga

Diarsipkan di bawah: Arsip IT public knowledge-sharing — dontmissit @ 5:22 pm

 

Sumber asrip : SuaraSurabaya.Net 23 Desember 2006

Berharap Pada Teknologi Generasi Ketiga

Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) terutama seluler kini sudah semakin cepat. Belum satu dasawarsa rakyat negeri ini menikmati teknologi berkomunikasi tanpa kabel ini, inovasi teknologi seluler telah beranak pinak dan kini memasuki generasinya yang ketiga.

Secara legal, generasi ketiga teknologi ini sudah diadopsi operator-operator nasional sejak Februari 2006, ketika PT Telkomsel, PT Excelcomindo Pratama, dan PT Indosat Tbk memenangkan tender 3G. Sejak itu, 3 operator tersebut berlomba-lomba menyesuaikan dan membangun jaringan miliknya agar bisa beradaptasi dengan 3G. Baru akhir tahun ini ketiganya menyatakan siap memasarkan 3G pada pelanggannya.

Permasalahannya, sudah siapkah pelanggan menerima teknologi generasi ketiga ini dan bagaimana operator menanggapi ekspektasi pelanggan terkait konten yang ditawarkan? Sejumlah pengamat mengaku pesimis dengan masuknya 3G di Indonesia. ONNO W. PURBO misalnya satu diantara pegiat teknologi informasi Indonesia tidak yakin 3G bisa ‘lepas landas’ di Indonesia.

Ada 2 teknologi di Indonesia yang menurut ONNO bisa ‘menghimpit’ 3G yakni teknologi wireless fidelity (WiFi) dan Worldwide Interoperability for Microwave Access (WiMAX). WiFi yang terlebih dulu hadir di Indonesia, kata ONNO punya kecepatan jah lebih hebat ketimbang 3G yang baru lahir bulan lalu. Untuk 3G, kecepatan maksimal transfer datanya hanya 2 Mbps, sedangkan WiFi bisa mencapai lebih dari 50 Mbps dalam kondisi konstan. Belum lagi jika teknologi WiMAX masuk ke Indonesia, dipastikan kata ONNO, 3G akan habis.

ONNO juga pesimis jika penguna layanan data dari 30 juta pengguna GSM di Indonesia (sekitar 3 juta-Red) dapat dengan mudah beralih ke 3G. “Paling bagus hanya 1,5 juta saja pengguna GPRS yang mungin mau menggunakan 3G, tapi apakah mereka akan menjadi pengguna loyal? Saya kira kok tidak. Jika tak ada manfaat yang signifikan, mereka pun akan kembali ke GSM,” kata ONNO.

Penghalang 3G bukan hanya WiFi dan WiMAX, kata ONNO, jaringan internet berbasis komunitas pun bisa jadi ancaman. RTRWnet, komunitas pengguna jaringan internet di wilayah perumahan pun potensial membuat 3G muspro.

Hal yang kurang lebih senada juga diungkapkan LENDY WIDAYANA Managing Partner IDD Research and Documentary. Mantan Direktur Ciputra Cyber Institute ini menilai tahun 2007 mendatang operator dipastikan akan mengeluarkan energi ekstra besar untuk mengedukasi pasar, dimana segmen anak muda menjadi target utamanya.

Ia memberi catatan, selama operator hanya mengasosiasikan 3G hanya pada sisi video call saja, maka tidak ada nilai tambah (value added) lain yang diberikan teknologi ini. Padahal, tambahnya, kemampuan 3G bukan sebatas pada video call saja. Masih banyak kemampuan yang bisa diberikan pada pelanggan karena 3G pada dasarnya ‘bermain’ di atas frekwensi berpita lebar (broadband).

“Untuk itu pentingnya di sini adalah kekayaan konten yang disediakan operator. Mampukah mereka (operator-Red) merangkul content provider sebanyak-banyaknya untuk memanjakan pelanggan?” ungkap LENDY.

Kendati demikian, kekayaan konten, kata LENDY, juga harus diimbangi dengan etika karena banyak diantara konten yang menarik justru tidak sesuai dengan nilai yang berkembang di masyarakat. Ia mencontohkan kasus pornografi di Inggris yang tersebar lewat media 3G dan broadband. “Orangtua menjadi was-was karena dengan mudahnya informasi didapat, bahkan lewat handphone sekalipun,” ujarnya.

LENDY juga memprediksi, pada tahun 2007 pemasaran 3G masih akan ditopang oleh prinsip buy the fashion, not the function yang dianut pelanggannya. Untuk itu, ia memprediksi musik dan film masih menjadi konten yang paling menarik buat pengguna 3G.

Hal ini dibenarkan SYAKIEB SUNGKAR Senior VP Indosat, Tbk Jawa Timur-Bali Nusra. Ia mengakui anak muda menjadi target pasar 3G karena sifatnya yang anti kemapanan dan selalu ingin coba-coba. Namun ia menambahkan, kalangan mapan dan profesional pun juga dibidik karena broadband menawarkan fungsi yang bisa dimanfaatkan mereka.

Mengurai Masalah 3G

Diakui SYAKIEB, ada 4 masalah yang kini masih terus dibenahi operator agar pelanggan bisa menggunakan 3G dengan nyaman. Masalah pertama adalah jaringan. Diakuinya, setting jaringan untuk 3G masih belum sepenuhnya tuntas ketika 3G dirilis Indosat. Ini terkait overhandling atau perpindahan dari jaringan 2G ke 3G atau sebaliknya.

“Terkadang tidak smooth dan bisa mengakibatkan dropp call,” kata SYAKIEB. Tingkat gagal overhandling di Indosat sendiri diakui SYAKIEB, kini mencapai sekitar 5 %.

Masalah kedua adalah belum selarasnya standar setting pada handset-handset 3G. Tiap vendor handset 3G, ungkap SYAKIEB, masih menerapkan standar yang berbeda dalam hal setting sehingga bisa jadi, operator yang menggunakan BTS berplatform A tidak kompatibel dengan handset B. Namun, kata SYAKIEB, ke depannya para vendor sudah menyiapkan patching sehingga antar vendor saling kompatibel.

Masalah ketiga adalah SIM card. Khusus untuk 3G, SIM card yang digunakan adalah USIM dan ini membutuhkan setting ulang karena masalah belum kompatibelnya handset dengan operator. “Indonesia ini masih tahap belajar, edukasi. Saya yakin dalam tempo 2 tahun, fase edukasi ini akan terlewati dan masyarakat pengguna, operator, serta vendor akan memiliki bahasa yang sama dalam pengoperasian 3G,” ujarnya.

Masalah terakhir adalah terkait konten. Menurut SYAKIEB, ada dua masalah terkait konten ini. Yang pertama adalah mencari konten yang menarik tapi tidak melanggar norma hukum maupun sosial, dan yang kedua terkait charging fee pada penyedia konten (content provider).

“Menurut saya, konten video yang menarik saat ini adalah vieo asusila anggota DPRD. Wah, itu kalau dijual betul-betul laku. Tapi kan tidak bisa begitu, ada norma-norma yang harus diikuti. Itulah, bisakah kita menjual konten yang enarik tapi tidak melanggar norma,” ujarnya.

Terkait charging fee, kata SYAKIEB, benar-benar harus disepakati antara operator dan penyedia konten. Billing system, ucapnya, harus benar-benar disiapkan untuk mengukur tingkat download. Soal ini, kata SYAKIEB, operator benar-benar selektif dengan memperhatikan tawaran harga penyedia konten dan menarik atau tidaknya konten untuk pelanggan.

Yakinkah Indosat dengan prospek 3G di tahun 2007? Setelah berinvestasi Rp160 miliar hanya untuk membayar lisensi frekwensi 3 G ke pemerintah, SYAKIEB mengaku optimis bisa menjaring pelanggan lebih banyak. Tahun 2007 mendatang, ia menargetkan 5 % dari pelanggan bisa pindah ke teknologi generasi ketiga ini.

“Saat ini di Jatim, dari 3,5 juta pelanggan, baru seribu yang menjadi subscriber 3G, padahal targetnya 4 ribu. Kita harapkan tahun depan bisa mencapai 4,5 juta pelanggan di Jatim,” tutupnya. (suarasurabaya.net)

Tulisan sebelumnya

Blog pada WordPress.com.