IT-teknologi untuk informasi-imajinasi-inspirasi by Lendy Widayana

26 Oktober , 2007

[2007] Memasuki Jaman IT as a Service – Peluang Besar Bisnis Data Center Belum Banyak Dilirik

Diarsipkan di bawah: Arsip IT public knowledge-sharing, Internet '90 - sekarang — dontmissit @ 7:08 am

Sumber arsip : SuaraSurabaya.Net 25 Oktober 2007

Setelah penetrasi Internet makin merebak dan dengan akses yang makin cepat, bisnis penyimpanan konten makin mempunyai ruang gerak. Baik konten lokal maupun konten asing yang diperlukan di Indonesia makin memerlukan tempat penyimpanan (storage). Keberadaan data center di setiap simpul yang padat pengakses Internet semakin diperlukan demi kecepatan layanan berbagai informasi mulai dari permainan (games), hiburan, berita dan pendidikan.

Menurut Frost & Sullivan seperti dilansir SDA Asia Magazine September lalu, nilai pasar data center di Indonesia tahun 2010 diperkirakan mencapai USD 146,5 juta.

Dalam strategi makro, kita tilik sebentar apa kata Russell Ackoff seorang pakar dalam perubahan organisasi yang mengatakan dalam Journal of Applies Systems Analysis (1989). Ia berpendapat bahwa pemikiran manusia dapat dikategorikan dengan hirarki ; adanya data, yang kemudian diolah menjadi informasi. Lalu sintesa informasi yang diaplikasikan akhirnya menjadi knowledge (pengetahuan dilengkapi dengan pengalaman). Jadi kita tidak mungkin memperoleh knowledge yang unggul jika data dan informasi belum terpenuhi. Tujuan menjadi knowledge based society tidak akan terjadi jika sturktur data tidak tertata menjadi struktur knowledge bagi bangsa kita.

Data center yang tersedia dalam jumlah banyak di Indonesia akan membuat interkoneksi struktur seluruh data hingga knowledge yang ada secara online makin mudah dan cepat diakses bagi kepentingan domestik. Singkatnya, dalam urusan infrastruktur koneksi Internet sampai ke masalah konten dan penyimpanannya, semuanya dari dan oleh kita sendiri di Indonesia.

Dengan demikian laba ekonomi Internet tidak selalu lari ke kantong bangsa lain seperti yang terjadi sekarang. Lihat saja, sebuah brand operator lokal yang pemiliknya sudah bukan lagi lokal, gencar beriklan di friendster.com yang juga punya orang luar. Untuk mengakses situs itu kita perlu pula membayar bandwidth internasional ke negara lain. Jadi kita di Indonesia hanya menjadi pasar potensial yang “menyetor” ke kantong sang pemilik di luar negeri. Perlahan tapi pasti kondisi ini bisa diubah dengan cara melihat secara jeli bagaimana setiap simpul data dapat mempunyai nilai ekonomis domestik.

Menyabet Peluang

Beberapa teman pengusaha IT sering mengajak diskusi dan melontarkan pertanyaan tajam soal nilai strategis dan ekonomis sebuah data center. Rangkuman jawaban saya seperti yang saya urai di bawah ini.

Bagi merek multinasional yang melihat pengakses Internet Indonesia sebagai pasar mereka tentu memerlukan data center di Indonesia yang dekat dengan pengaksesnya. Pada skala regional, tumbuhnya berbagai data center di masing-masing daerah sebenarnya juga menjadikan perputaran uang bisnis digital kategori ini tidak perlu “lari” keluar daerah atau ke luar negeri. Data center dapat menjadi katalisator bagi berbagai bisnis yang berkaitan dengan informasi online diseluruh sektor.

Sebagai sarana hosting untuk menyimpan berbagai konten web pelanggan, layanan jenis ini adalah layanan standar yang umum diberikan data center. Terdapat ribuan reseller jasa web hosting luar negeri yang menjajakan jasanya di Indonesia. Kehadiran data center lokal dengan harga yang juga kompetitif di dalam negeri akan mengurangi capital flight dari Indonesia ke luar.

Semakin banyaknya aplikasi berbasis IP (Internet Protocol) kebutuhan akan data center multimedia untuk melayani aplikasi teks, suara, gambar/foto dan video menjadi semakin meningkat. Sejalan dengan pertumbuhan pengakses di Internet tengok saja www.crhear.com atau wwitv.com yang berisi direktori radio dan televisi di Internet yang terus bertambah. Fakta ini makin memperkuat bahwa Internet semakin eksis menjadi sebuah media.

Sekarang memang jamannya IT as a Service. IT adalah layanan yang ada secara terintegrasi dengan bisnis. Namum masing-masing berada pada kompetensi utamanya. Ke depan, dengan makin murahnya akses Internet pita lebar (broadband) akan lebih efisien jika data korporat di letakkan secara alih daya (outsourcing) di sebuah layanan data center. Faktor efisiensi adalah dari pemakaian energi listrik, pendingin, perawatan integritas dan keamanan data. Selain itu perusahaan pelanggan data center juga tidak perlu lagi selalu harus memikirkan investasi server berikut infrasturkturnya.

Seperti yang dilakukan oleh pemain data center kelas dunia seperti SAVVIS yang bekerjasama dengan Entellium pembuat software CRM (Customer Relationship Management). Selain menjadi fasilitas fisik dan virtual penyimpanan data, sebuah data center akan memperoleh nilai tambah yang tidak sedikit jika bersinergi dengan solusi bisnis aplikasi yang bersifat online seperti ERP (enterprise resource planning) online. Aplikasi solusi bisnis seperti ERP dan CRM ke depan memang akan banyak ditawarkan dengan sistem sewa. Perusahaan tidak lagi perlu investasi perangkat lunak. Karena semua sudah online dengan kecepatan tinggi, cukup sewa pemakaian perangkat lunak dalam terms periode waktu atau volume transaksi.

Dalam perkembangan dunia free and open source software (FOSS) selain dapat menyediakan secara gratis, data center juga mempunyai peluang menjadi implementator perangkat lunak tak berbayar ini. Memang FOSS adalah gratis secara software, namun implementasi dan perawatannya secara sistem tetap memerlukan biaya. Inilah peluang pendapatan dari sektor jasa sebuah data center.

Layanan backup and recovery bagi pengguna data center adalah unit pendapatan lain data center yang selain sebagai fasilitas penyimpanan sekaligus menjaga integritas data pelanggan. Penyimpanan data klien dapat bersifat primer atau sekunder sebagai mirror backup. Pasar di sektor ini adalah perusahaan yang telah menerapkan IT disaster risk management,. Banyak perusahaan skala besar saat ini telah menyadari bahwa manajemen bencana khususnya untuk melindungi data mereka menjadi sebuah prioritas.

Harus diakui bahwa perkembangan penetrasi telepon seluler di Indonesia lebih cepat ketimbang Internet. Fakta ini juga menjadi peluang bagi data center untuk memfasilitasi konten SMS dan konten dalam aplikasi mobile yang terus bergerak naik.

Berbisnis Data Center

Membangun bisnis data center memang memerlukan modal yang tidak sedikit. Perlu infrastruktur teknologi perangkat keras dan lunak, SDM yang mumpuni, dan beberapa akses Internet pita lebar. Uang banyak dan uang “nganggur” (idle fund) sekalipun tidak cukup. Yang penting adalah visi dan kesanggupan membaca peluang ini selama minimal sepuluh tahun ke depan. Karena memerlukan dana besar, dapat saja dibuat usaha patungan atau model incorporated.

Pemegang saham yang tepat adalah mereka yang mempunyai Internet entrepreneurship dalam bidang jasa yang kuat. Bisa juga mengajak mitra dengan mereka yang sudah terbiasa berbisnis di sektor informasi. Mengapa demikian? Karena bisnis data center adalah bisnis kepercayaan. Sarat dengan faktor jaminan kontinyuitas bisnis sang pelaku.

Apakah bisa menggandeng operator telekomunikasi besar? Bisa ya, bisa tidak. Dengan kian tajamnya persaingan operator telekomunikasi, energi mereka sudah tersedot banyak untuk meraih pelanggan dan memperluas penetrasi. Jadi dengan operator lebih cocok jika melakukan sinergi pasar, agar supaya masing-masing pihak dapat berkonsentrasi dengan bisnis intinya.

Melihat beberapa syarat yang tidak mudah dimasuki oleh setiap pelaku bisnis, maka hanya mereka yang punya sense dan dapat menangkap peluang ini yang dapat berhasil. Secara alami, memasuki sebuah bisnis yang tidak mudah dimasuki orang lain memberi peluang berhasil menjadi lebih besar. Selebihnya ya business as usual, silakan dicermati berapa nilai riil bisnis dari sederet peluang-peluang di atas.

LENDY WIDAYANA,
Managing Partner IndonesiaDiscovery Research & Documentary.
lendy@indonesiadiscovery.net

« Tulisan Lebih BaruTulisan yang Lebih Tua »

Blog pada WordPress.com.